Aku tahu ungkapan itu hanyalah kebohongan kita, di tengah ketidak mungkinan kita untuk bisa menyatu. AKuingin kau berbohong lagi kepadaku . Seperti yang kau utarakan kemarin, Sebelumnya, dan seperti Waktu lampau dulu itu. Ketika redup mentari berpendar di pucuk daun dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. dengan kau kecup tanganku kala itu.
Sebuah kecupan mendaarat di keningku, saat kita berjumpa, Dan Bisikan lirih rasa sayangmu kepadaku seolah memberi pesan akan sesuatu yang terlontar spontan dan kau sendiri terkejut mendengarnya. Duniaku berhenti beberapa detik. Senyap. Kosong. Harmoni mengisinya.
Aku merindukan Kebohongan mu tentang sesuatu bermakna cinta. Kurasa itu tak
Aku, pun terinfeksi virus pikatmu. Tapi tidak terlena dan mengejarmu bersama kertas yang kupaksa untuk kau tanda tangani seperti yang lain. Kelelahan yang selalu kulihat dalam sorot matamu, seolah tak
Aku tahu tentang bohongmu karena kau telah terkurung oleh cinta lain yang telah lama terjalani, lalu kau anggap apa ini? apakah hanya sebuah permainan dalam kebohonganmu. tapi aku dan kamu terlanjur permainan yang kita ciptakan.., permainan cinta yang penuh kebohongan, penuh sanjung dan puji, penuh dengan untaian makna dalam bait-bait kata puisi yang kita tulisakan dalam menunjang semua kebohongan kita, tentang kebohongan makna Cinta yang seharusnya suci.
Tak lagi mampu kukendalikan diriku padamu. Kau pun berikan dirimu kepadaku. Waktu tergenggam oleh tangan-tangan kita yang semakin menyatu dalam gengaman yang saling mengeratkan dan tidak ingin terpisahkan oleh apapaun. dan suatu kebohongan yang selalu kita nikmati.
Dan itu terulangi! Tidak seperti kali pertama kebohonganmu, kali ini bohongmu terdengar lebih jelas dan membuatku membeku sekaligus menjentikkan api rasa yang selama ini padam dalam hatiku.
"Aku sayang kamu."
Aku tahu, itu. Tetapi aku mulai menikmati bohongmu dan kuletakkan peranku pula disitu. Karena kita adalah pemain yang tak
"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya di waktu yang akan datang.
"Tak berartikah ini bagimu?" aku belum puas dengan penjelasan retoris itu. Dan mulai memaksanya. Selintas beberapa wajah cantik mencoba mengingatkanku pada posisiku. Tanpa makna.
"Kau memberikan padaku warna lain pada kanvasku, itu berarti banyak sekali." Itulah yang terucap darimu dan menepis tanganku dari tanganmu. Kehangatan tiba-tiba lenyap. Aku mulai menggigil.
"Aku harus pergi!" katamu waktu terakhir kita bertemu, saat kau ingin menikahi dirinya
"Jangan. Kataku, jangan pergi," kuulangi pintaku lirih.
"Tinggallah," kuingin tetap berbagi peran denganmu, kalau bisa selamanya.
"Baiklah." Janjimu begitu yang kau ucap kala itu.
"Selamat malam, terima kasih," dan itulah kata yang terdengar dari bibirmu. Hanya punggungmu yang kulihat meninggalkanku dalam semua renunganku akanmu. Tak
Ku tak mungkin jatuh cinta
* * *
Tapi kemudian, hal itu terjadi, seperti setiap aku marah padamu. kau seperti bertelepati padaku. Kau selalu tahu tentang apa pun yang kupikirkan. akanmu.
Senyummu mengembang. Kupandangi matamu, berharap bisa menguak kebohongan itu dari
Agak sulit menciptakan kebohongan pada mata, dan aku melihat segalanya disana mengatakan itu. Kerinduanmu terpancar dari kedalaman pandanganmu. Kau ulurkan tanganmu menyentuhi jariku. Kurasa inginkan lagi. Kau yang seolah tak pernah kehabisan kata kini terdiam dalam pandang yang bertemu, terkunci disana oleh kekuatan yang lebih besar dari yang kita bisa pahami.
"Sadarlah, betapa indahnya persahabatan ini. Dan jika waktu membawa kita saling jauh, kita akan tetap bertemu lagi dalam indahnya rasa ini."
Air mataku mulai menderas tanpa mampu lagi kutahankan. Persahabatankah ini semua bagimu? Sesalku dalam hati. Kutinggalkan engkau dengan tumpukkan laporan akhir tahun yang bahkan tak sempat kau sentuh. Bergegas menuju ruanganku, dan berencana membenamkan diri disana sementara waktu.
Telepon di mejaku berdering. Kau. Segera kututup lagi. Semenit kemudian kau telah duduk di mejaku.
"Apa yang membuatmu sedih?" tanyaku, pelan.
Aku hanya mengajakmu melihat realitas yang ada. Kita adalah manusia - manusia rapuh yang seringkali salah melihat pertanda dalam hidup kita sendiri. Aku tak ingin kita salah langkah dalam hal ini. Aku bersamamu sekarang, kau tahu ini adalah ketulusan yang ...
"Tapi, kenapa ? Kau telah membuatku jatuh cinta padamu, dan kau katakan kini kita akan berpisah esok hari!" raungku memotong kata-katanya.
"Karena kita tidak tahu pada apa yang terjadi besok, sayang."
Sapaan itu selalu berhasil meluluhkan hatiku. Tapi kini aku butuh lebih dari hanya sekedar sapaan "Sayang" itu. Di tengah tetesan air mataku, kulihat dia melakukan sesuatu yang akan kukenang selama hidup, dikeluarkannya saputangan dan menghapus air mataku dengan sabar.
Kini ia berpindah berdiri di belakangku, membimbingku menuju rautan besi tua di pelataran rumah persewaan itu. Di rengkuhnya kepalaku dan ciuman lembut itu menghapus habis isakku.
"Aku tak pernah bisa berbohong, pada siapapun, juga padamu. Aku tak
"Kau pernah berbohong padaku." Kembali aku terisak kini.
"Kapan ?"
"Ketika kau katakan kau sayang padaku." Dia mengerutkan dahinya, tak mengerti.
"Kau bohong dengan mengatakan kau sayang padaku," kataku meneruskan. Dan aku ingin sekali kau tetap berbohong padaku, jangan katakan kita akan berpisah suatu hari nanti. Itu sungguh menyakitkanku.
"Aku sayang kamu " itu terucap lagi darimu...... . dan dengan menghapus lagi air mataku kau memintaku bersamamu makan siang.
"Jangan katakan itu kalau hanya untuk sementara." desisku
"Kau membuatku makin tak mengerti sayang. Sudahlah, mari kita makan malam sekarang."
"Aku pasti jelek karena menangis."
Kau menggelengkan kepala kuat-kuat sambil berjalan menuju pintu.
Kupandangi punggungnya yang melangkah pergi, seperti kala itu. Tapi aku tahu kini, aku harus berada di sampingnya, selalu. Untuk makan malam, dan untuk hari-harinya, dengan ketulusanku pada kebohongannya.

